SOLISJalan menuju masa depan
ID
Bab 09

Budaya dan makna

Pada malam festival cahaya, kota itu meredupkan lampu-lampu jalannya, dan Mara berdiri bersama putranya, Levi, di atas jembatan sambil menghitung bintang. Siang harinya sebuah kelompok teater di pasar memerankan majelis wilayah, dengan seorang juru masak yang menanyakan segala hal dan seorang insinyur pengairan yang berbicara terlalu lama. Mara tertawa sampai berlinang air mata. Kemudian ia pergi ke Rumah Hening, seperti pada setiap hari peringatan wafat ayahnya, dan duduk selama satu jam tanpa apa-apa.

Di dunia yang semakin cepat dan semakin teknis, sesuatu yang paling mendalam membentuk manusia terancam hilang: budaya. Budaya bukan sekadar hiburan atau hiasan. Budaya adalah ingatan dan kompas batin sebuah masyarakat, yang menopang manusia, memberi tahu mereka siapa mereka dan dari mana mereka berasal, dan yang membangun jembatan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan. Dan budaya adalah tempat masyarakat mengajukan pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh ekonomi dan teknologi mana pun: untuk apa semua ini. Karena itu SOLIS mengakui budaya dan makna sebagai dimensi yang mendasar, bukan sebagai urusan sampingan.

Budaya sebagai warisan yang hidup

Setiap warisan budaya dianggap berharga, besar atau kecil, mendunia atau setempat. Tidak ada budaya yang penting dan yang tidak penting, dan tidak ada cerita besar dan cerita kecil. Sebuah kisah masyarakat adat sama bobotnya dengan sebuah karya klasik, sebuah dialek daerah sama bobotnya dengan sebuah bahasa dunia. Budaya boleh berubah, tumbuh, dan berbaur, dan sekaligus boleh melindungi apa yang dianggapnya suci. Sebuah komunitas boleh menentukan sendiri warisan mana yang dibagikannya dan mana yang dijaganya, alih-alih menyerahkannya pada campur tangan dari luar.

Agar budaya tidak diserahkan pada pasar atau kebetulan, ada program untuk melestarikan, mendokumentasikan, dan merawatnya: arsip yang menjaga bahasa, cerita, dan karya, dukungan bagi mereka yang menciptakan dan mewariskan budaya, dan ruang tempat pengetahuan budaya tetap hidup. Sebuah program yang mempertemukan orang muda dan orang tua, agar yang tua membagikan cerita, lagu, dan resep mereka, melestarikan budaya bukan sebagai nostalgia, melainkan sebagai kebersamaan yang hidup. Sebab manusia membutuhkan akar untuk menemukan arah, dan masyarakat membutuhkan budaya untuk menjalin kekompakan dan melawan tercerabutnya akar. Keberagaman di sini bukanlah masalah, melainkan kekayaan.

Seni, musik, dan sastra

Di banyak masyarakat masa kini, seni telah menjadi barang mewah, objek pasar, atau proyek gengsi. Namun seni jauh lebih dari itu: bahasa jiwa, alat yang dipakai masyarakat untuk memandang dirinya sendiri, dan laboratorium bagi gagasan dan perasaan baru. Seni adalah mata rantai antara individu dan komunitas, antara kenyataan dan visi. Karena itu SOLIS menjadikan seni, musik, dan sastra sebagai pilar penopang.

Kegiatan berkesenian didukung, bukan hanya dibiarkan. Dana-dana membiayai seniman dari segala cabang, tidak bergantung pada nilai pasar dan selera massa, dan justru yang eksperimental dan yang kritis mendapat ruang. Sebuah kelompok teater yang menggarap lakon tentang ketimpangan sosial didukung karena lakon itu bermakna bagi masyarakat, bukan karena laku dijual. Seni di sini bukanlah olahraga untuk ditonton. Anak-anak maupun orang dewasa didorong untuk mencipta sendiri, melukis, bermain musik, menulis, bermain peran, tanpa tekanan prestasi dan tanpa rintangan elitis, dan orang-orang lanjut usia menyumbangkan cerita mereka, yang menjadi pelajaran bagi yang lebih muda.

Seni tidak dinilai menurut nilai pasarnya, melainkan menurut daya ungkapnya, ketulusannya, dan dorongan sosialnya. Seni jalanan, seni digital, dan bentuk-bentuk warisan sama-sama dianggap serius, dan siapa yang mengangkat persoalan sosial atau ekologis mendapat dukungan khusus. Karena itu seorang anak muda yang mencari ekspresinya dalam grafiti tidak hanya mendapat laporan polisi, tetapi juga dinding, bengkel kerja, dan pendampingan, agar ia dapat menjadikan kekuatannya sesuatu. Sebab seni memberi suara kepada individu dan bagi masyarakat bekerja seperti sistem kekebalan tubuh. Seni merasakan di mana ada yang sakit, memperlihatkan apa yang ada di bawah permukaan, dan membangun jembatan di tempat kata-kata tak lagi cukup.

Spiritualitas dan filsafat

Di banyak masyarakat modern, pencarian makna dianggap urusan pribadi, agama dianggap sesuatu yang tidak pantas masuk ruang publik, dan filsafat dianggap urusan segelintir ahli. Namun manusia membutuhkan lebih dari pangan, tempat tinggal, dan teknologi. Manusia membutuhkan makna, kedalaman, dan hubungan dengan keseluruhan, dan membutuhkan ruang untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan besar: siapa dirinya, apa arti hidup, dan apa yang kita utangkan satu sama lain. SOLIS mengakui dimensi ini sebagai hal yang mendasar dan menjadikannya bagian dari tatanan masyarakat. Setiap bentuk spiritualitas dihormati selama tidak merugikan orang lain. Agama, ketiadaan iman, dan setiap bentuk pencarian makna berdiri berdampingan dengan hak yang sama. Tidak ada yang dipaksa memercayai sesuatu, dan tidak ada yang boleh memaksakan imannya kepada orang lain. Seorang perempuan beriman dapat menjalankan ritualnya sebebas seorang biksu bermeditasi atau seorang pemikir berargumen dalam percakapan filsafat, dan perlindungan atas kebebasan ini hanya berakhir di tempat diskriminasi atau paksaan dimulai. Untuk itu ada ruang-ruang publik untuk hening dan merenung yang terbuka bagi semua: sebuah Rumah Hening, tempat orang datang untuk berdoa, bermeditasi, merenung, atau menyendiri, tradisi mana pun yang mereka ikuti. Dan ada hari raya dan hari peringatan bersama yang tidak terikat pada agama mana pun dan merayakan kemanusiaan.

Filsafat, akhirnya, bukanlah proyek kaum elite, melainkan alat bagi semua. Anak-anak sejak dini belajar memikirkan hidup yang baik, keadilan, dan kebahagiaan. Orang dewasa menemukan ruang untuk bertanya bersama, tempat yang dicari bukan satu jawaban yang benar, melainkan kegiatan berpikir itu sendiri: malam-malam ketika orang dari segala lapisan berbicara tentang cinta, kematian, tanggung jawab, keberanian, dan kegagalan. Masyarakat yang mengizinkan pertanyaan seperti itu lebih tangguh dan lebih berbelas kasih, karena ia menghadapi ketidakpastian keberadaan bukan dengan pengalihan perhatian, melainkan dengan kedalaman. Ini langsung bersambung dengan kedewasaan yang dilandaskan dalam bab tentang pendidikan. Makna tidak dapat diperintahkan, melainkan hanya ditemukan, dan tatanan yang menanggapi hal ini dengan serius mengundang orang untuk berpikir, alih-alih mengarahkannya.

Ritual dan pengalaman bersama

Di dunia modern, banyak hal menjadi fungsional, kerja, konsumsi, bahkan waktu luang, dan sering tidak ada ruang bagi pengalaman bersama, bagi saat-saat yang keluar dari arus keseharian. SOLIS melihat di sini sebuah kebutuhan dasar manusia. Ritual bukan sekadar cerita rakyat atau tradisi agama. Ritual adalah jembatan: antara manusia dan antargenerasi, antara manusia dan alam, antara individu dan komunitas.

Dalam SOLIS ritual tidak diwajibkan, melainkan boleh berkembang. Ritual lahir dari kebutuhan dan pengalaman manusia, dan boleh berubah dan menemukan dirinya kembali. Ada ruang bagi bentuk-bentuk warisan maupun bagi bentuk-bentuk baru, misalnya yang ekologis atau artistik. Sebuah kota bersama warganya mengembangkan sebuah festival tempat seni, musik, alam, dan komunitas bertemu, bukan sebagai tontonan bagi orang luar, melainkan sebagai ungkapan identitas yang hidup. Pada festival cahaya, seluruh kota meredupkan penerangannya, dan orang-orang berdiri bersama di bawah bintang-bintang. Ritual seperti itu bisa bersifat keagamaan atau budaya, sosial atau ekologis, dan menciptakan saat-saat untuk berhenti sejenak, terhubung, dan bermakna.

Di dunia yang sering gelisah dan terpecah-pecah, ritual-ritual itu adalah saat-saat yang mengingatkan bahwa kita saling memiliki dan berbagi sesuatu yang lebih besar. Ritual itu bukan sekadar acara, melainkan makna yang dihayati, dan ritual itu menguatkan komunitas, karena menunjukkan bahwa komunitas lebih dari jumlah bagian-bagiannya. Agar ini berhasil, komunitas mendapat sarana untuk merawat dan mengembangkan ritualnya sendiri, dan keikutsertaan tetap terbuka bagi semua, tidak bergantung pada asal-usul, iman, atau kedudukan.

Pencarian makna dan pemenuhan diri

Di banyak masyarakat modern, kerja dianggap sarana untuk mencari uang, keberhasilan dianggap karier dan harta, dan hubungan dianggap urusan pribadi. Dalam semua ini satu pertanyaan yang menentukan tetap tak terjawab: mengapa kita melakukan apa yang kita lakukan, dan apa yang benar-benar memenuhi diri kita. SOLIS menempatkan pertanyaan ini di pusat, sebab masyarakat yang baik tidak hanya efisien dan makmur. Masyarakat itu adalah ruang tempat orang dapat menemukan makna, tidak diperintahkan dan tidak seragam, melainkan pribadi dan hidup. Dalam SOLIS sudah semestinya orang boleh bertanya pada dirinya apa yang bermakna baginya, di mana ia ingin berkarya, dan bagaimana ia dapat menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar tanpa kehilangan dirinya. Anak-anak didorong untuk ingin tahu dan mencoba-coba. Remaja didampingi untuk menemukan panggilannya, bukan semata-mata menurut hasil, melainkan menurut gairah dan kontribusi. Orang dewasa berhak mengubah arah bila jalannya tidak lagi cocok, sehingga seorang insinyur perempuan yang merindukan kerja sosial dapat beralih keterampilan tanpa takut kehilangan status. Hidup di sini tidak dipilah menjadi bagian yang berguna dan yang tidak berguna. Kerja tidak hanya harus berfungsi, tetapi juga bermakna, dan kontribusi seperti kerja sukarela bersama anak-anak dihargai dan diakui sebagai kontribusi, meskipun tidak menghasilkan barang apa pun.

Untuk itu ada layanan yang membantu orang menemukan jejak maknanya sendiri: konsultasi, pendampingan, dan ruang untuk merenung, komunitas yang menopang di masa peralihan, dan pendidikan yang tidak hanya mencakup pengetahuan bidang, tetapi juga perkembangan kepribadian. Ini lebih dari sekadar urusan yang lunak. Manusia tanpa makna menjadi hampa di dalam dan terasing, dan masyarakat yang penuh dengan orang-orang terasing adalah masyarakat yang sakit, betapapun berkilau tampak luarnya. Setiap orang berhak atas hidup yang layak dijalani: tidak hanya bertahan hidup, tetapi benar-benar hidup.

Kegembiraan hidup dan humor

Tatanan yang menanggapi kemanusiaan dengan serius juga harus menanggapi tawa dengan serius. Tawa menyembuhkan. Tawa mematahkan pola yang kaku, membuka hati, dan menciptakan kebersamaan, dan masyarakat yang dapat menertawakan dirinya sendiri kebal terhadap fanatisme yang mengancam setiap gagasan besar. Karena itu SOLIS mengakui humor dan kegembiraan hidup sebagai sumber daya, bukan sebagai pengalih perhatian. Pesta, permainan, musik, olahraga, dan istirahat bukanlah jeda dari hidup yang sebenarnya, melainkan bagian darinya, dan ketenangan bukanlah kemewahan, melainkan dasar kesehatan. Ritual-ritual tatanan ini mengizinkan ironi dan kritik diri, seninya boleh mengejek, dan para pejabatnya harus tahan dijadikan karikatur. Rancangan yang tidak lagi boleh ditertawakan telah berhenti menjadi rancangan dan menjadi dogma. Justru itulah yang tidak pernah ingin menjadi SOLIS.

Pertukaran budaya global

Masa kini mengenal dua gerakan yang berlawanan arah. Di satu sisi keterhubungan budaya tumbuh, di sisi lain tumbuh pula ketakutan akan dikuasai, kehilangan identitas, dan terasing di negeri sendiri. Dari sini lahir ketidakpastian dan kecurigaan, dan sebagai ganti pertukaran yang hidup sering muncul penarikan diri dan tuduhan. SOLIS menempuh jalan lain dan memahami pertukaran budaya global bukan sebagai hiasan yang dangkal, melainkan sebagai keharusan di dunia yang saling terjalin erat.

Karena itu pertukaran didorong secara terarah: melalui kemitraan antarsekolah dan antarrumah budaya, melalui kerja sama para seniman melintasi batas, dan melalui festival dan platform yang tidak hanya menghubungkan kaum elite, tetapi juga prakarsa-prakarsa setempat. Sebuah festival musik tidak hanya menampilkan orang-orang dari berbagai benua bergantian di panggung, tetapi membiarkan mereka bersama-sama menciptakan sesuatu yang tidak dapat ditemukan oleh siapa pun sendirian. Persoalan perampasan budaya di sini tidak dikutuk secara pukul rata dan tidak pula diabaikan tanpa peduli, melainkan ditangani dengan kesadaran dan percakapan: dari mana sebuah bentuk berasal, apa artinya, dan siapa yang punya akses kepadanya? Kelompok-kelompok di pinggiran dapat melindungi bentuk-bentuk ungkapannya, dan budaya-budaya boleh membagikan apa yang ingin dibagikannya dan menarik batas di tempat yang dikehendakinya. Karena itu siapa yang ingin bekerja dengan motif sebuah komunitas memasuki pertukaran dengan komunitas itu, alih-alih sekadar menirunya.

Dengan begitu keberagaman dipahami sebagai harta, bukan sebagai ancaman. Orang menemukan sudut pandang dan bentuk ungkapan baru, yang memperluas cakrawala dan menguatkan belas kasih. Masyarakat yang menghayati pertukaran lebih tangguh dan lebih kreatif, dan di dunia yang saling terhubung, tantangan-tantangan besar hanya dapat diatasi bersama. Alih-alih bersembunyi di balik tembok, orang-orang berkumpul di lapangan terbuka dan membiarkan seni, musik, dan gagasan mengalir, sebagai perbendaharaan bersama umat manusia.

Kebebasan budaya dan identitas yang lentur

Budaya memberi makna, menciptakan identitas, dan menghubungkan generasi. Namun budaya juga dapat memecah belah bila dikuasai, dan melayani propaganda bila tunduk pada kekuasaan atau pasar. Dalam banyak sistem masa kini, budaya menjadi barang dagangan atau alat ideologi, dan dengan itu kehilangan wataknya yang bebas dan menghubungkan. SOLIS memahami budaya sebagai sesuatu yang bebas, beragam, dan sekaligus ditopang bersama. Seni, bahasa, agama, dan tradisi dapat dipilih secara bebas, tidak ada yang dipaksa melepaskan identitas budayanya, dan budaya boleh bersikap kritis dan mempertanyakan otoritas, termasuk tatanan itu sendiri, sejalan dengan kedewasaan yang dilandaskan dalam bab tentang pendidikan. Karena itu seorang seniman boleh menciptakan seni politik tanpa takut akan sensor atau paksaan komersial, dan sebuah komunitas boleh merawat tradisinya selama ia menghormati ambang hak-hak dasar yang tidak dapat digeser. Agar budaya menjadi milik semua dan bukan milik segelintir orang, budaya tetap menjadi harta bersama. Museum, perpustakaan, teater, dan arsip digital terbuka, pendidikan meneruskan keberagaman, dan kegiatan budaya ditopang oleh dana-dana, bukan oleh paksaan pasar, sehingga seorang musisi muda perempuan mendapat dukungan tanpa menjadi bergantung pada struktur komersial.

Identitas, akhirnya, dalam SOLIS bersifat multidimensi dan lentur, bukan satu dimensi dan diperintahkan. Seseorang dapat memahami dirinya sekaligus sebagai bagian dari daerahnya, profesinya, dan dunia, tanpa tingkat-tingkat itu saling bertikai, dan identitas boleh tumbuh, alih-alih ditetapkan dari atas. Dengan begitu budaya menjadi jembatan yang menumbuhkan kepercayaan dan nilai bersama, memungkinkan dialog antargenerasi dan antarkelompok, dan justru di masa perubahan memberi arah. Keberagaman di sini adalah kekuatan, selama tidak disalahgunakan secara dibuat-buat untuk memecah belah. Budaya itu bebas dan tidak dijual, identitas tumbuh dan tidak diperintahkan.

Sebarkan

SOLIS hanya menyebar dari pembaca ke pembaca. Bila bab ini membuatmu berpikir, kirimkan kepada satu orang yang perlu membacanya.

◄ Kembali ke daftar isi