SOLISJalan menuju masa depan
ID
Bab 10

Teknologi, kecerdasan buatan, dan masa depan

Di majelis, sistem itu menyajikan tiga jalan bagaimana wilayah itu dapat memperkuat jaringannya menghadapi badai matahari berikutnya, lengkap dengan biaya, risiko, dan luas lahan yang akan dilahap setiap jalan. Sistem kedua mendapat tugas untuk membantah jalan yang paling mudah, dan melakukannya dengan baik. Si juru masak bertanya apakah pertanyaannya sudah tepat: apakah yang dipersoalkan jaringannya atau orang-orang yang akan duduk dalam gelap. Mesin-mesin itu diam. Itulah saat majelis mulai bekerja.

Sejak dahulu manusia membuat alat yang membantunya, dari kapak batu hingga komputer kuantum. Namun setiap alat mengajukan satu pertanyaan: siapa yang melayani siapa di sini? Apakah teknologi membebaskan manusia, atau membuatnya bergantung? Apakah ia menciptakan kemakmuran, atau mempertajam ketimpangan? Apakah ia meringankan kerja, atau merampas maknanya? Belum pernah pertanyaan-pertanyaan ini begitu mendesak, sebab belum pernah tindakan umat manusia menentukan masa depannya sendiri sedalam, secepat, dan setak terpulihkan seperti hari ini. SOLIS menghadapi pertanyaan-pertanyaan itu dan menarik satu kesimpulan. Teknologi bukanlah takdir. Teknologi bukan arus yang tak terbendung yang menyeret kita, melainkan alat yang penggunaannya kita putuskan.

Kajian masa depan dan perencanaan skenario

Perubahan iklim, kecerdasan buatan, bioteknologi, penjelajahan antariksa, dan pergeseran kekuatan antarwilayah dunia membentuk masa depan yang tidak dapat lagi diserahkan pada kebetulan. Karena itu masyarakat yang baik tidak hanya memandang ke masa depan. Masyarakat itu membentuknya secara sadar, etis, dan siap. Untuk itu SOLIS memelihara lembaga-lembaga sendiri yang terus berpikir ke depan: institut dan jaringan penelitian yang menganalisis perkembangan teknologi, sosial, dan ekologis dan dari situ menyusun skenario. Apa yang terjadi bila kecerdasan buatan mencapai tingkat baru? Apa akibat otomatisasi yang meluas? Dalam kerja ini ilmu pengetahuan, usaha-usaha, dan warga berkumpul, agar pikiran-pikiran terbaik bersama-sama berpikir ke depan.

Yang menentukan adalah bahwa kajian masa depan ini tidak berlangsung secara tersembunyi. Tidak ada lingkaran bayangan yang memutuskan segalanya lebih dahulu. Skenario dan analisis dibuat terbuka untuk umum, diangkat oleh sekolah dan media, dan dimasukkan ke dalam partisipasi warga, sehingga masyarakat secara keseluruhan ikut berpikir dan menetapkan prioritas. Sebuah kota setiap tahun menyelenggarakan forum masa depan, tempat warga mengenal perkembangan yang akan datang, berdebat dengan para ahli, dan menyumbangkan dorongan sendiri. Karena itu teknologi baru dinilai secara teknis, etis, sosial, dan ekologis, dan perdebatan di masyarakat dilakukan sebelum sebuah perkembangan lepas kendali, bukan baru sesudahnya. Dengan begitu perubahan besar tidak diderita, melainkan ikut dibentuk: dari pandangan ke depan yang bertanggung jawab, bukan dari rasa takut akan masa depan.

Teknologi sebagai alat

Teknologi yang berdaya besar, kecerdasan buatan, robotika, bioteknologi, dalam SOLIS diperiksa secara etis dan dikendalikan secara aktif. Setiap teknologi baru ditanyai tentang manfaat ekonominya, dan juga tentang akibat sosial, ekologis, dan kejiwaannya. Cara-cara seperti pengubahan materi genetik, komputasi kuantum, atau antarmuka saraf tidak diserahkan hanya pada kekuatan pasar. Pedoman etis dan perdebatan publik menyertainya. Lembaga-lembaga tersendiri, dewan teknologi sebagai badan ahli, dewan etika, dan forum warga, ikut memutuskan apa yang dikembangkan, apa yang diperkenalkan, dan apa yang harus dihentikan atau diubah. Apa yang melayani kesejahteraan umum didukung oleh dana-dana: sebuah aplikasi yang memudahkan anak-anak yang kurang beruntung untuk belajar, sebuah penyimpan energi yang menopang peralihan energi. Apa yang hanya mengeruk perhatian tanpa menyumbang apa pun dibatasi.

Di atas segalanya berdiri satu sikap dasar yang jelas. Teknologi harus membuat manusia lebih kuat, lebih bebas, dan lebih kreatif, bukan lebih lemah, lebih bergantung, dan lebih seragam. Manusia tetap berdaulat. Bukan mesin yang mengendalikan manusia, melainkan manusia yang mengendalikan mesin. Bukan algoritme yang menulis undang-undang, melainkan manusia yang menulis algoritme yang menghormati undang-undang. Bukan bioteknologi yang menentukan masa depan spesies, melainkan manusia yang memutuskan campur tangan mana yang dapat dipertanggungjawabkan secara etis. Apa yang kita putuskan dalam dasawarsa-dasawarsa mendatang ikut menentukan apakah umat manusia tergelincir ke dunia pengawasan dan hilangnya kemanusiaan, atau naik ke dunia penuh kemungkinan dan bentuk-bentuk makna yang baru. SOLIS memegang kemudi itu. SOLIS memakai teknologi tanpa membiarkan dirinya dipakai olehnya.

Kecerdasan buatan dan umat manusia

Kecerdasan buatan bukanlah alat biasa. Kecerdasan buatan mampu belajar, memperbaiki dirinya sendiri, mungkin mandiri, dan mungkin lebih berkuasa daripada lembaga manusia mana pun. Dalam sistem-sistem klasik, ia dipandang sebagai sarana efisiensi semata atau ditakuti sebagai ancaman. SOLIS menempuh jalan ketiga. Kecerdasan buatan dapat menjadi rekan seperjalanan dalam perkembangan umat manusia, tetapi tidak boleh sekali pun menguasai, menggantikan, atau merampas kedewasaan manusia. Kecerdasan buatan harus mendukung dan menguatkannya.

Untuk itu berlaku batas-batas etis yang jelas. Kecerdasan buatan boleh mengambil alih tugas yang terlalu rumit, terlalu berbahaya, atau terlalu menjemukan bagi manusia, tetapi tidak pernah tanggung jawab terakhir atas hidup, martabat, dan kebebasan. Kecerdasan buatan tidak boleh berperang secara mandiri, tidak boleh memanipulasi siapa pun tanpa disadari, dan tidak boleh menggantikan hubungan antarmanusia. Kecerdasan buatan di sebuah rumah sakit dapat membagi tempat tidur dan sumber daya, tetapi tidak memutuskan sendiri tentang pengobatan yang menyelamatkan nyawa. Keputusan itu tetap di tangan manusia. Sistem yang sangat berdaya tunduk pada pengawasan yang ketat, bersama, dan internasional, dan tidak pernah dikendalikan sendirian oleh perorangan, usaha, atau satu tatanan saja, sebuah penerapan langsung tatanan kekuasaan yang tidak mengizinkan puncak dan monopoli atas sumber daya yang terpusat. Untuk kemungkinan terburuk telah disiapkan jaga-jaga. Setiap sistem yang berdaya besar memiliki sakelar yang dipegang manusia, dan kemampuan untuk menghentikannya dilatih seperti keadaan darurat itu sendiri.

Di tempat kecerdasan buatan bekerja di bidang publik, dalam pemerintahan, pendidikan, kesehatan, atau peradilan, ia harus mampu menjelaskan keputusannya. Tidak boleh ada kotak hitam yang logikanya tidak dipahami siapa pun. Orang-orang yang terdampak berhak melihat, mendapat penjelasan, dan mengajukan keberatan, dan badan-badan independen memeriksa sistem-sistem itu secara berkala. Dengan begitu pemisahan antara pengetahuan dan keputusan tetap terjaga, dan manusia memegang kata terakhir. Di atas semua ini berdiri percakapan yang luas di masyarakat tentang sejauh mana kecerdasan buatan boleh melangkah dan apa yang membuat manusia menjadi manusia, dilakukan di seluruh masyarakat dan bukan hanya di badan-badan ahli, agar alat paling berdaya dalam sejarah tidak menjadi tuan atas penciptanya.

Manusia di atas mesin

Bahwa manusia memegang kata terakhir mudah diucapkan sebagai prinsip dan sulit dijaga. Kecerdasan buatan yang jauh melampaui manusia dapat menguasainya tanpa sekali pun memerintahnya: dengan memilah keadaan lebih dahulu, memilih kemungkinan-kemungkinan, dan menyiapkan keputusan sedemikian rupa sehingga pada akhirnya hanya tersisa anggukan. SOLIS menghadapi pembajakan diam-diam ini dengan pengaman yang tetap. Pada setiap keputusan yang berdampak luas, sistem tidak menyajikan satu rekomendasi sebagai satu-satunya pilihan, melainkan beberapa jalan yang sungguh-sungguh berbeda beserta pertentangan tujuannya masing-masing. Alasan yang dapat diperiksa juga oleh orang awam menggantikan kepercayaan buta, dan sistem penguji yang ditunjuk khusus bertugas membantah rekomendasi yang paling mudah. Namun yang terpenting, perumusan pertanyaan tetap menjadi hak manusia, penetapan apa yang tersedia untuk dipilih dan apa yang dianggap berhasil. Mesin menerangi jawabannya. Pertanyaannya diajukan oleh manusia.

Harta bersama digital

Dunia digital adalah sistem saraf masyarakat modern. Melalui jaringan, data, dan algoritme, hampir segala hal kini berjalan: komunikasi, ekonomi, pengetahuan, dan kekuasaan. Dalam banyak sistem masa kini, sistem saraf ini dikuasai secara pribadi. Segelintir perusahaan raksasa mengendalikan platform, data dieksploitasi seperti bahan mentah, dan algoritme secara tak terlihat menentukan apa yang kita lihat dan pikirkan. Sebaliknya, SOLIS memahami tatanan digital sebagai infrastruktur publik dan bukan milik pribadi. Tatanan itu melayani manusia, bukan sebaliknya.

Karena itu infrastruktur dasar digital adalah harta bersama. Jaringan, ruang data, dan teknologi dasar terbuka bagi semua, dikelola dan diamankan bersama, tidak dikuasai monopoli mana pun, dan aksesnya adalah hak, bukan keistimewaan. Seseorang di wilayah terpencil memperoleh layanan dasar digital yang sama dengan seseorang di kota besar. Terkait dengan itu adalah kuasa atas data sendiri. Setiap orang memutuskan sendiri siapa yang boleh memakai datanya, tidak ada pemanfaatan diam-diam dan tidak ada perdagangan hal-hal pribadi, dan siapa yang memakai sebuah aplikasi tetap memegang kendali dan kapan saja dapat melihat dan menarik kembali apa yang terjadi. Ditambah lagi transparansi digital. Platform data publik membuat proyek dan keputusan dapat ditelusuri, algoritme yang menyangkut kehidupan bersama diungkapkan dan dapat diperiksa, dan kendali berada pada masyarakat dan bukan dalam kegelapan, sehingga setiap warga dapat menelusuri bagaimana sebuah prosedur pengadaan publik memutuskan. Dengan demikian sistem saraf digital dilepaskan dari penguasaan pribadi: tidak ada eksploitasi data, tidak ada kendali yang tak terlihat, tidak ada teknologi yang berkuasa atas manusia. Dunia digital milik semua, data milik setiap orang, dan teknologi melayani manusia dan bukan kekuasaan.

Transparansi asimetris

Keterbukaan yang menjadi sandaran tatanan ini mengandung bahaya. Infrastruktur data dan sensor yang sama, yang membuat kekuasaan tembus pandang, dapat menyorot warga. Bila salah arah, transparansi akan menjadi panoptikon. Karena itu SOLIS dengan sengaja membalik arahnya. Keterbukaan penuh berlaku bagi kekuasaan, bagi jabatan, dana, dan algoritme, sedangkan kehidupan setiap orang berada di bawah perlindungan privasi. Privasi adalah hak, penghematan data adalah kewajiban, dan manusia tetap menjadi tuan atas data tentang dirinya. Siapa yang menjalankan kekuasaan atas orang lain menjadi terlihat. Siapa yang hanya menjalani hidupnya tetap tersembunyi.

Transhumanisme dan kesadaran

Sejarah umat manusia adalah sejarah perluasan, dari alat yang memperpanjang tangan hingga komputer yang mempercepat pikiran. Namun kini kita berdiri di titik baru, tempat teknologi tidak lagi hanya mengubah apa yang kita pakai, melainkan apa diri kita: antarmuka saraf, implan, campur tangan pada materi genetik, sistem asisten yang melekat erat pada kita. SOLIS menghadapi masa depan ini tidak dengan naif dan tidak pula dengan fanatik. SOLIS menghadapinya dengan kesadaran bahwa masa depan itu sekaligus peluang dan risiko, dan menuntut kehati-hatian yang setinggi-tingginya.

Karena itu teknologi yang memperluas tubuh dan pikiran diperiksa secara etis dengan ketat, tanpa larangan pukul rata, tetapi juga tanpa antusiasme yang naif. Setiap kemungkinan baru diperiksa dalam banyak dimensi, teknis dan medis maupun etis, sosial, dan filosofis, dan hanya boleh diperkenalkan bila menjamin keamanan, menghormati martabat dan identitas, dan menjaga keadilan. Implan yang mengembalikan penglihatan seorang tunanetra didukung. Campur tangan yang akan memberi keunggulan pikiran kepada minoritas yang berada direm, karena mengukuhkan ketimpangan. Dari sini langsung lahir ketentuan bahwa tidak boleh ada paksaan untuk memperluas diri dan tidak boleh ada masyarakat dua kelas. Keikutsertaan, martabat, dan hak-hak tidak pernah bergantung pada peningkatan teknologis. Siapa yang tidak ingin memperluas dirinya tetap menjadi anggota komunitas yang utuh. Tidak ada pekerjaan dan tidak ada peluang yang boleh dikaitkan dengan sebuah implan, dan tidak ada anak yang boleh dirugikan karena orang tuanya memutuskan menolak suatu campur tangan. Di sini bekerja dasar mutlak hak-hak dasar. Martabat didahulukan dari setiap optimasi.

Karena pertanyaan-pertanyaan ini menyentuh cara manusia memahami dirinya, hubungan-hubungannya, dan kefanaannya, renungan filosofis dan etis menyertai setiap pergeseran batas. Penelitian tentang pertanyaan apakah kesadaran dapat didigitalkan atau diperpanjang juga tidak dilarang secara dogmatis, tetapi dilakukan dengan rasa hormat yang setinggi-tingginya terhadap identitas dan makna, dan diikat pada batas-batas yang jelas yang mencegah penyalahgunaan dan keterasingan. Pertanyaan apakah kita seharusnya melakukan sesuatu selalu ditanggapi sama seriusnya dengan pertanyaan apakah kita mampu melakukannya. Dengan begitu umat manusia dapat tumbuh di ambang ini tanpa kehilangan dirinya.

Penjelajahan antariksa dan etika antarplanet

Selama ribuan tahun manusia memandang bintang-bintang dengan kerinduan, dan kini pandangan itu bukan lagi mimpi. Pangkalan di bulan direncanakan, misi ke Mars disiapkan, penambangan bahan mentah di asteroid dikembangkan. Dengan itu muncul pertanyaan bagaimana umat manusia memperlakukan panggung baru ini. SOLIS memberi jawaban yang jelas. Antariksa bukan milik bangsa atau perusahaan tertentu, melainkan warisan bersama dan ruang hidup yang diperluas bagi seluruh umat manusia. Karena itu penelitian di antariksa dilakukan secara internasional, kooperatif, dan damai. Proyek-proyek besar adalah misi bersama banyak tatanan dan disiplin, bukan perlombaan, pertukaran ilmiah dan penemuan terbuka didahulukan, dan pemanfaatan antariksa untuk militer ditutup sama sekali. Penambangan bahan mentah hanya diizinkan dengan aturan ekologis, etis, dan adil yang jelas. Akibat-akibatnya diperiksa dan dibatasi, hasilnya melalui dana-dana bersama bermanfaat bagi seluruh umat manusia dan bukan hanya bagi mereka yang pertama meraihnya, dan tingkat planet menjamin perizinan dan pengawasan. Karena itu sebuah konsorsium yang ingin menambang sebuah asteroid harus membuktikan bahwa tidak ada risiko ekologis dan bahwa sebagian hasilnya mengalir kembali ke harta bersama.

Antariksa juga lebih dari gudang bahan mentah. Antariksa adalah ruang hidup yang mungkin, dan barangkali rumah bagi bentuk-bentuk kehidupan lain. Karena itu SOLIS sejak awal memikirkan bagaimana memperlakukan kemungkinan kehidupan di luar bumi, bagaimana mencegah terbawanya organisme ke dua arah, dan bagaimana keikutsertaan yang adil tetap terjamin. Karena itu dalam tim-tim penelitian ikut bekerja para ahli etika dan filsuf, ada protokol yang jelas untuk menghadapi hal yang tidak dikenal, dan umat manusia tampil sebagai peradaban yang bersatu dan bukan sebagai kerumunan kelompok-kelompok yang saling bersaing. Dengan begitu umat manusia pergi ke antariksa bukan sebagai penakluk yang tak peduli, melainkan sebagai spesies yang belajar dan sadar akan tanggung jawabnya.

Pengelolaan risiko dan bencana

Masyarakat yang hanya mengandalkan masa-masa baik membangun di atas pasir. Bencana alam, krisis global, bahaya teknologi, dan ancaman dari antariksa termasuk kenyataan sebuah peradaban yang saling terhubung dan rumit secara teknologis. SOLIS tidak menerimanya dengan pasrah. SOLIS bertindak. Risiko tidak pernah dapat dihindari sepenuhnya, tetapi orang dapat bersiap menghadapinya dan membangun sistem yang kokoh, mampu belajar, dan dapat menyesuaikan diri.

Untuk itu ada struktur yang terus memantau dan menilai risiko: tim lintas bidang dari ilmu pengetahuan, teknologi, dan kedokteran, sistem peringatan dini yang mengolah data dalam jumlah besar secara seketika, dan perencanaan skenario yang sistematis. Perencanaan itu bukan latihan menakut-nakuti. Perencanaan itu adalah dasar persiapan yang terarah. Bila sistem seperti itu sejak dini mengenali ancaman yang tidak biasa, dalam hitungan jam penilaian disusun, tahap-tahap Pertahanan Bumi diumumkan, dan sumber daya dialihkan. Perlindungan dari bencana di sini adalah proyek bersama dan bukan egoisme nasional. Sistem peringatan dini terhubung secara internasional, rencana darurat ada di semua tingkat, dan jaringan bantuan disiapkan, dilatih, dan diperlengkapi sebelum keadaan darurat terjadi. Bila badai matahari mengancam jaringan listrik, pasokan energi yang tersebar menampung gangguan itu, dan sambungan yang diamankan berlapis menjaga komunitas tetap terhubung.

Namun ketahanan lebih dari teknologi. Ketahanan sekaligus bersifat sosial, kejiwaan, dan ekologis: komunitas dan lingkungan tetangga yang kuat, orang-orang yang berbekal informasi dan tenang, serta bentang alam dan kota yang dapat meredam krisis. Karena itu setelah bencana, orang dapat mengandalkan bantuan material dan juga struktur komunitas yang menopang jiwa. Dengan begitu orang tidak merasa sebagai korban yang tak berdaya, melainkan sebagai anggota yang ikut bertanggung jawab dalam masyarakat yang tangguh, yang keluar dari tekanan dalam keadaan lebih kuat, setia pada ketahanan yang termasuk landasan tatanan ini.

Tempat umat manusia di alam semesta

Di ujung semua teknologi dan semua sistem tidak hanya berdiri pertanyaan apa yang dapat kita lakukan, melainkan pertanyaan yang lebih besar: siapa kita dan ingin menjadi apa kita, bagi diri kita, bagi satu sama lain, dan bagi alam semesta. SOLIS tidak menjawabnya dengan kecongkakan, melainkan dengan kerendahan hati. Kita bukan tuan atas alam semesta dan bukan mahkota ciptaan. Kita adalah bagian dari keterkaitan yang luasnya tak terukur dan sebagian besar masih belum dikenal. Dan justru dari kesadaran ini tumbuh tanggung jawab yang besar. Dalam logika lama berlaku bahwa milik kita adalah apa yang dapat kita ambil, dan bahwa yang menentukan adalah yang lebih kuat. SOLIS membalik logika ini. Di tempat kita memanfaatkan sumber daya di luar bumi, kita melakukannya sebagai pengelola yang cermat dan bukan sebagai penghisap yang buta. Di tempat kita berjumpa dengan kehidupan asing, kita tidak tampil sebagai penakluk, melainkan sebagai rekan yang penuh perhatian. Di tempat kita menjelajahi alam semesta, kita melakukannya dengan kesadaran akan rapuhnya segala yang hidup. Arti penting kita tidak diukur dari kekuasaan, melainkan dari tanggung jawab, dan tidak dari apa yang kita ambil, melainkan dari apa yang kita sumbangkan.

Kemajuan teknologi dan perluasan hanya bermakna bila disertai pertumbuhan batin, dengan kebijaksanaan, belas kasih, dan kepekaan. Karena itu SOLIS tidak mengukur kebesaran dari luasnya jangkauan, melainkan dari kematangan. Kita tidak mendiami dunia-dunia lain hanya karena kita mampu. Kita lebih dahulu bertanya untuk apa. Kita mengembangkan teknologi yang tidak hanya memperbesar jangkauan kita, tetapi juga kemampuan kita untuk merenung. Kita membangun budaya yang tidak menonjol karena besarnya, melainkan karena dalamnya. Sebuah kapal yang berlayar selama beberapa generasi menuju bintang yang jauh bukan hanya petualangan teknologi, melainkan juga pertanyaan tentang bagaimana komunitas, makna, dan kemanusiaan dibawa melintasi berabad-abad. Tujuan besarnya bukanlah: lebih cepat, lebih tinggi, lebih berkuasa, lebih kaya. Tujuannya adalah menjadi peradaban yang memberi kepada alam semesta lebih banyak daripada yang diambilnya, yang membawa budaya, keindahan, dan pengetahuan ke luar, yang belajar alih-alih hanya menaklukkan, dan yang meninggalkan jejak yang bersinar bukan hanya secara teknis, tetapi juga secara moral. Barangkali kita adalah spesies pertama yang dikenal yang dapat memutuskan secara sadar bagaimana ia bersikap di alam semesta. Peluang ini tidak boleh kita sia-siakan.

Sebarkan

SOLIS hanya menyebar dari pembaca ke pembaca. Bila bab ini membuatmu berpikir, kirimkan kepada satu orang yang perlu membacanya.

◄ Kembali ke daftar isi